Random Talk (12 May 2026)

 Aku mulai nulis cerita fiksi di tahun 2024—which was quite hard. Di masa itu, hidupku tertekan banget. Aku kena fitnah, kerjaan yang semrawut, atasan yang pengen ditampol, orang tua yang kurang support. Akhirnya aku tenggelam dalam hidupku sendiri. Aku mencoba untuk kembali bahagia dengan cara membaca novel dan menulis cerita fiksi. Meskipun jauh banget dari ekspektasi, tapi setidaknya pikiranku ini sudah keluar sebagian, nggak mengendap di dalam dan cuma jadi angan-angan.

Di awal-awal aku nulis cerita, ceritaku cenderung manis dan happy ending. Aku nulis orang-orang yang greenflag, nggak ada konflik parah karena aku pemula dan pikiranku nggak sepanjang itu unuk bikin plot twist. Aku menikmati cerita yang berjalan lurus-lurus aja dan gak banyak maju -mundur, yang tulisannya enak dibaca, gampang dicerna, walaupun belum rapi-rapi amat.

Suatu hari aku nemu dracin yang genrenya politik di Harem. Kupikir bakal sakit hati pas nonton, ternyata enggak sih. Lebih ke arah complicated aja. Rasanya malah kayak negliat miniatur kehidupan orang biasa yang berjalan ngikutin garis nasibnya. Even setelah jadi Empress sekalipun tidak bisa menghindar dari kemalangan/nasib buruk yang harus terjadi. Ketika momen itu kena, Cuma butuh satu momen aja yang merobohkan semuanya.

Ada yang bilang, segala cara dilakukan untuk bertahan hidup, tapi sekalinya mati ya sudah. Habislah.

Dari situ aku mulai mengakui dan merangkul semua kesedihanku, yang nggak pernah dipahami orang lain—yang selalu ditolak, padahal sifatnya natural. Aku mulai nulis cerita-cerita yang berakhir tragis, mulai bikin tokoh-tokoh utama yang diam-diam menangis, kehilangan harapan hidupnya. Mulai menulis bahwa orang baik nasibnya tidak selalu baik. Mulai mengakui hidup dan menerima hidup seperti apa adanya.

Ceritaku jadi pahit. Kayaknya ‘pahit’ sama ‘nangis’ di Bahasa Mandarin bunyinya sama tapi nadanya beda (Ku). Aku juga sebenarnya nggak suka pahit. Aku nggak suka malam-malam tiba-tiba pikiranku penuh dan mendadak nangis sampai jam dua. Aku nggak suka jamu-jamu yang dibelikan orang tuaku, selalu pahit dan aku harus tahan—kalau aku nggak tahan maka orang tuaku akan tersinggung dan aku sendiri bakal merasa gagal jadi anak yang baik. Aku nggak suka ini dan itu, tapi aku jadi bisa mengakuinya.

Pelan-pelan aku melepaskan semua kepahitan itu. Dengan semua cerita itu dan pengakuan terselubung di dalamnya, aku bisa Kembali merasa.

Aku hidup Kembali.

Dan—nggak, aku nggak jadi bitter setelah menulis semua cerita-cerita sedih itu. How priviledged I am ketika aku selesai, toh pun aku masih bisa menulis cerita yang manis. Kembali nulis orang-orang greenflag dengan karakter clueless nerd tapi baik, penyayang, dan setia. While doing that, aku Kembali mikir lagi, betapa beruntungnya aku dikelilingi oleh orang-orang yang sebenarnya standar moralnya cukup tinggi. Dengan kata lain, aku selalu dikelilingi lingkungan yang baik, orang-orang yang baik, dan hidupku sebenarnya lurus-lurus aja (setidaknya sampai huru-hara itu terjadi).

Aku biasanya jarang nulis karakter yang “pure good” atau “pure evil”, karena di dalam yang evil pun juga sebenarnya kompleks. Menjadikan sebuah karakter itu hidup, berjiwa, dan punya reasoning sendiri untuk tindakannya itu menurutku privilege. Aku memang dikelilingi oleh orang-orang yang baik sehingga aku lebih nyaman menulis cerita yang lurus-lurus aja—tapi untuk mengerti orang lain, untuk masuk ke dalam jiwa orang lain, entah itu baik atau jahat, menurutku sangat sulit dan nggak nyaman.

These greenflags people tentu saja merupakan bentuk 2D ddari orang-orang yang kujadikan model. Meskipun nasibku agak ngambang soal percintaan, tapi aku bersyukur banget sebenarnya. I did not fell for a badboy, walking redflags, or a person with cold and distant persona. Ada yang bilang bahwa seseorang akan attract hal-hal yang cenderung familiar dengan dia. Lingkungan rumah yang problematic menyebabkan anak juga ikut problematic—bisa aja ada trauma terselubung di balik kebiasaan serta tipe-tipe orang yang dijadikan inner circle pergaulannya.

Ada beberapa kasus dari pengamatanku, ada orang yang merasa bahawa orang yang greenflag itu membosankan. Padahal spektrum greenflag ini nggak sekedar orang yang anteng. Orang greenflag bisa asyik dan seru, tapi yang dijadiin bahan seru-seruan jelas bukan hubungannya. Ibarat makanan, nggak selalu makanan sehat harus direbus doang dan hambar. Tapi orang-orang yang terlalu ‘gak bisa’ banget sama greenflag ini sebenarnya ada masalah khusus—dan aku beruntung aku bukan termasuk orang-orang itu.

Also, orang-orang di sekelilingku ini selalu memaksa aku untuk tidak balas dendam karena kalau ngikutin insting ya aku pasti jadi orang yang juahat buanget (menurut society). Baik yang beneran baik maupun yang kampret selalu mengingatkan soal ini. Sehingga dalam ceritaku ini jarang banget ada balas dendam meskipun banyak yang komen, “Ayo balas dendam!1!1!1!”.

Pemikiran bahwa aku gak mau balas dendam ini lalu diimbangi dengan advice dari orang-orang baik untuk menjaga diri, mikir berkali-kali sebelum bertindak, dan jangan sampai berada dalam posisi yang dirugikan tanpa counter-measure apapun. Fyi, aku jarang menyesali sesuatu karena ya kupikir aku sudah melakukan sejauh yang aku bisa. Kalau nggak terjangkau sama pikiranku ya akui aja kalau memang itu kekurangan di saat itu. Sebagai gantinya karena tidak mau balas dendam, sebisa mungkin tokoh di dalam ceritaku ini juga selalu mikir dan setidaknya dilengkapi dengan starategi yang baik untuk menghadapi situasi yang dia alami.

Yang terpenting adalah, semua ini aku dapatkan karena lingkunganku adalah lingkungan yang baik. Aku sekolah TK di TK yang bagus, SD yang isinya anak-anak orang yang relatif lebih kaya supaya lingkungannya bagus. SMP dan SMA di pusat kota, sekolah negeri yang paling bagus. Kuliah meskipun sengsara tapi lulus langsung dapat kerjaan yang nggak buruk. Yah, after all I should be more grateful.

Komentar

Postingan Populer