Medioker for Lyf

 Ini adalah pure curhat.

Jadi saya barusan iseng banget nyari di Wikipedia tentang seorang penulis bernama Sasti Gotama karena kebetulan beberapa waktu yang lalu saya sempat mengunjungi toko buku besar di sebuah mal dan namanya lumayan terngiang-ngiang. Jujur saya belum sempat beli buku beliau karena TBR saya sendiri sudah mengggunung dan belum tersentuh.

Beliau ini ternyata profesi awalnya adalah seorang dokter umum dan baru aktif di dunia kepenulisan pada sekitaran tahun 2018 dan capaian penghargaan tertinggi beliau yang tercatat saat ini adalah pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2025. Ketika saya melihat detail dari event tersebut, jujur ada rasa jiper banget ketika membaca list awardee dari tahun ke tahunnya. Judul-judul yang agak misterius, agak nyentrik kalau saya boleh bilang, dan deretan nama-nama penulis yang bagi saya nggak asing kalau ke toko buku.

Saya sendiri jadi spontan membandingkan diri dengan mereka, meskipun saya tahu kalau mungkin tidak akan mencapai level apple-to-apple. Saya dulu mungkin berpikir bahwa membuat puisi atau prosa panjang itu hanya membutuhkan ide dan perasaan. Dulu saya menulis tidak lebih dari sekedar spontanitas saja. Kalau ada ide atau sedang merasakan sesuatu yang vivid (atau bahkan yang rumit sekalipun), salah satu cure-nya adalah menulis. Jadi selama ini saya menulis hanya untuk bersenang-senang saja.

Tapi ada hal yang membuat saya merasa, “Oh, ternyata I’m just being another mediocre in another field of specialization”.

Ketika saya umur 12, saya mulai join ekstrakulikuler untuk fisika lanjutan di SMP. Jadi tujuannya grup fisika ini nanti dipersiapkan untuk upcoming olympiads events. Sayangnya, saya gagal di OSP dan orang tua juga sempat marah karena dirasa saya hanya fokus ke fisika. Padahal sejujurnya saya pingin banget ngerasain IJSO dan IPhO semasa remaja, tapi saya sendiri juga sadar bahwa kapasitas anak-anak yang join di olimpiade ini bukan sekedar peringkat satu paralel. Ada special ‘traits’ yang saya notice, dan mau se-alay atau se-jamet apapun saya waktu itu, saya tahu bahwa saya nggak sama dengan mereka.

Bidang agama ini malah lebih ngenes. Orang tua saya takut saya jadi radikal karena saya terlalu strict. Tapi ya sudahlah, toh saya sekarang lebih condong ke arah moderat karena semakin tua, semakin banyak masalah, beragama pun harus pakai logika. Mau balik jadi strict pun kayaknya sudah nggak bisa karena komunitasnya banyak yang ngeri (I mean, apa yang lebih ngeri dari menghadapi orang yang pendidikannya nggak oke-oke amat tapi keras kepala, egonya tinggi, merasa berkuasa dan paling benar, serta bikin tameng atas nama agama?)

So… yeah. Balik lagi ke pembicaraan awal, saya menjadi orang yang medioker. Baik dalam fisika, agama, olahraga, dsb. Bahkan muka pun saya juga medioker, itu juga kalo ada yang masih denial dengan bilang, “Ah, enggak kok. Semua orang punya kecantikannya masing-masing,”kita tahu itu tai ledig. Cakap kau bagus tapi bagus lagi kau diam. Syutup.

Lalu sekarang saya beralih ke bidang bahasa dan sastra yang sebenarnya bukan hal baru. Saya nggak akan claim bahwa tulisan saya paling oke, karena kalau saya claim begitu, saya pasti udah teken kontrak dengan Harper-Voyager atau minimal KGP lah kalau di Indonesia. Saya hanya membandingkan diri saya antara standar saya yang kepingin jadi selevel dengan R.F. Kuang dengan realita kemampuan yang hanya sebatas jadi amatiran. Ada bedanya antara ‘bisa’ dengan ‘ahli’, dan sayangnya saya nggak pernah merasa cukup untuk menyatakan saya ahli.

Hal ini kemudian diperparah dengan platform menulis saya yang algoritmanya juga saya kurang ngerti. Buruknya, saya jadi membandingkan tulisan saya dengan jumlah pembaca dan ada rasa kesal ketika yang baca atau yang suka hanya sedikit. Padahal tujuan saya nulis di awal ini adalah untuk kesenangan pribadi, bukan sebuah pencapaian tertentu apalagi mencari ketenaran. Semua statistik yang ditampilkan pada dashboard akun saya ini mulai terasa jadi bias pada niat awal saya pribadi. Seakan-akan ada hubungannya antara jumlah pembaca dengan level skill yang saya punya. Berasa jadi punya skill issues ketika pembaca hanya sedikit, atau merasa tulisan saya harus formulaik untuk mendapatkan hook yang lebih oke padahal saya pribadi kurang sreg.

I knew that I might not a genius, tapi ya saya juga nggak “nol” banget. Intinya, medioker aja.

Jujur, saya kira perasaan kebingungan kayak gini bakal berakhir kalau sudah melewati umur 25. Di awal September kemarin saya ulang tahun ke 26 dan saya kira saya sudah lolos, ternyata ya… nggak juga. Ternyata masih bingung juga sama nasib sendiri. Mau berprinsip ‘jalani aja dulu’ pun juga bingung gak sih kalau nggak tahu jalannya ini mau apa, ke mana, ngapain?

Saya ngerasa kalau somehow dunia Sastra ini ya selayaknya bidang seni atau Matematika sekalipun yang awalnya abstrak jadi konkret dan vice versa. Butuh perasaan dan logika sekaligus. Masalahnya, saya udah gak peka-peka amat sama emosi (kecuali kalau sampai menyentuh core trauma atau dari lingkup keluarga) dan jujur setelah sekitar dua tahun yang tenang ini, saya jadi nggak suka kalau balik peka soal perasaan (terutama yang sedih-sedih).

Terus soal kehidupan yang cenderung monoton, sebenernya saya juga sudah lupa rasanya jatuh cinta. Kalau ada tulisan saya yang menggambarkan tentang gimana rasanya jatuh cinta, it’s often based on memories. Tidak ada pengalaman baru. And fall in love itself, was kinda dangerous. Di umur pertengahan duapuluhan menuju akhir, love is not a plaything anymore. Betapa banyaknya contoh nasib orang yang jadi sangat rentan dimulai dari jatuh cinta. Jatuh cinta sudah bukan sekedar sensasi karena di belakangnya ada banyak banget konsekuensi.

Jadi ya, kenapa sih semuanya harus serba medioker? Kenapa nggak sesekali “pro” gitu?

Yes, di atas langit ada langit. Kalau saya liat akun buzzer, ternyata ada orang yang lebih ngawur daripada aku. Tapi kalo lewat akun-akun sekolah anak orang kaya, I wonder, apakah saya sebenarnya bisa mencapai titik itu. Setidaknya on-par dalam hal kemampuan.

Ya gitu deh. Nggak ada jawaban pastinya. Untuk mencari tahu juga saya males banget. Nanti kalau ternyata saya kurangnya banyak, saya makin down. Kalau saya ternyata golongan “atas”, kayaknya juga semi-mustahil. Emang yang paling bener adalah terima aja dulu. Jalanin aja dulu.

Tapi, gimana kalau makin jalan makin nyasar?

Ya ndak tau, kok tanya saya?

Saya aja nggak tahu, apalagi Anda. Iya nggak sih?

Komentar

Postingan Populer