Memahami Basantara Kita, Bahasa Indonesia
Beberapa waktu yang lalu, algoritma media sosial TikTok saya menayangkan sebuah video di mana seorang guru di Malaysia mengingatkan para muridnya untuk menggunakan bahasa Melayu yang telah diresmikan dalam kurikulum pembelajaran untuk menjawab soal-soal ujian. Pasalnya, para murid menggunakan kata “semangka”, “bebek”, dan “kelinci” alih-alih “tembikai”, “itik”, dan “arnab” yang seyogyanya digunakan dalam bahasa Melayu.
Perdebatan ini kemudian berlanjut pada kolom komentar di mana salah seorang warganet Malaysia menyatakan bahwa bahasa Indonesia tidaklah selevel dengan bahasa Inggris yang digunakan secara luas di dunia maupun bahasa Melayu yang native dan ekslusif. Namun pada faktanya, bahasa Indonesia telah menyebar begitu masif hingga tetangga sendiri pun sulit mengenali bahwa inklusivitas bahasa Indonesia telah ‘menyusup’ di antara keseharian mereka lewat obrolan kasual, media sosial, kesenian populer, dan banyak hal lainnya.
Lalu yang menjadi pertanyaan saya, jika bahasa Indonesia merupakan turunan langsung dari bahasa Melayu dan tentunya keduanya masih mutally intelligible, mengapa bisa menjadi begitu inklusif dan dapat diterima oleh masyarakat Indonesia sendiri yang bersifat heterogen? Tentunya kita sebagai orang Indonesia secara umum memahami bahwa Indonesia memiliki penduduk dengan berbagai suku dan ragam bahasa daerah serta dialek-dialek tertentu. Namun mengapa kita dapat menerima bahasa Indonesia dengan relatif mudah?
Jika ditilik dari sejarah pembentukannya, cikal bakal bahasa Indonesia bermula dari bahasa Melayu Riau-Johor sebagai varian yang umum digunakan pada rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini dipopulerkan sebagai bahasa para pedagang dan menyebar dari berbagai pelabuhan dan memiliki kata-kata serapan dari bahasa Sansekerta. Ketika persebaran agama Islam mulai mencapai kepulauan Nusantara, bahasa Arab dan Persia turut menambah perbendaharaan kosakata dalam basantara. Pengaruhnya juga semakin meluas seiring dengan munculnya kesultanan dan kerajaan bercorak Islam.
Di era selanjutnya, peristiwa besar yang memengaruhi bahasa Indonesia adalah kolonialisme dan imperialisme oleh negara-negara Eropa barat khususnya Belanda. Pada era ini, penelitian tentang aspek linguistik bahasa Nusantara banyak dilakukan oleh cendekiawan Eropa meskipun banyak dilatarbelakangi oleh tujuan penjajahan. Banyak catatan yang menyatakan bahwa penggunaan bahasa Melayu yang banyak dipengaruhi oleh persilangan budaya yang dibawa dari luar sehingga banyak disebut sebagai bahasa Melayu Pasar.
Pada era kolonialisme ini juga, bahasa Melayu di Indonesia (Hindia Belanda) yang semula menggunakan huruf Pegon atau Jawi, mulai dialihkan menggunakan alfabet Latin pada tahun 1901 dan mengadopsi ejaan Van Ophuijsen. Sedangkan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu yang kelak menjadi bagian dari Malaysia—di bawah Inggris—mengadopsi ejaan Wilkinson. Penggunaan ejaan Van Ophuijsen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) oleh Van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
Pemilihan ejaan berbasis bahasa Belanda—yang masih termasuk dalam rumpun bahasa Jermanik, memiliki pengaruh pada pengucapan, pelafalan, dan fonetik yang sampai saat ini dapat dirasakan. Dari segi fonetik alfabet, kita pasti menyebutkan huruf A, B, C, D, sampai W, X, Y, Z sebagai /a/, /be/, /ce/, /de/, sampai /we/, /eks/, /ye/, /zet/ yang sifatnya sangat konsisten sehingga pembacaan bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan cepat. Dalam beberapa kasus, orang dewasa yang baru belajar mengeja pun dapat membaca kata-kata dengan awalan dan imbuhan yang cukup banyak dengan benar meskipun dalam tempo yang lebih lambat.
Dari segi gramatik atau tata bahasa, bahasa Indonesia juga tergolong sangat mudah untuk dipahami. Tidak ada perubahan bentuk kata kerja untuk bentuk kalimat lampau, tidak ada konjugasi ketika modalitas digunakan, bentuk jamak yang sederhana, dan susunan kalimat yang fleksibel. Hal ini bisa kita rasakan ketika mengatakan, “Aku makan roti”, “Aku mau makan roti nanti”, “Tadi aku sudah makan roti”, atau bahkan “Kapan-kapan aku mungkin makan roti kalau sedang lapar”. Tidak banyak perubahan yang diberikan pada bentuk kata kerja utama.
Selanjutnya, pengguna bahasa Indonesia dalam register informal cukup banyak dipengaruhi oleh bahasa dan dialek daerah yang beragam dan hal ini cukup banyak memengaruhi perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Seringkali, terdapat selipan istilah-istilah bahasa daerah dalam interaksi tutur masyarakat, namun hal tersebut tetap diterima sebagai register bahasa Indonesia dengan dialek regional. Tidak perlu menunggu sempurna untuk berbahasa Indonesia dan tidak perlu mengklaim diri sebagai suku/etnis tertentu untuk menggunakan bahasa Indonesia secara ekslusif.
Bahasa Indonesia modern, dalam prakteknya mengalami beberapa kali pembakuan namun tetap menjaga supaya mangkus dan sangkil dalam penyampaian makna. Hal ini saya rasakan ketika saya pribadi mempelajari bahasa Mandarin dan beberapa bahasa asing lainnya, seringkali bahasa Indonesia sangat menyederhanakan makna beberapa kata dengan konteks yang berbeda-beda ke dalam sebuah kata yang sederhana (seperti neng, keyi, xing, hui menjadi ‘bisa’). Hal ini tentu mereduksi makna yang dihantarkan, namun di saat yang sama juga memudahkan target untuk memahami gambaran besar yang hendak disampaikan.
Terakhir, bahasa Indonesia sebagai bahasa yang ‘hidup’ memiliki penutur yang dinamis. Para penutur ini bersosialisasi dan berkomunikasi mengikuti perkembangan zaman sehingga bahasa terus berkembang, menyerap hal-hal baru, dan menyesuaikan dengan bentuk yang sudah ada secara fleksibel. Tidak ada tingkatan tutur yang berjenjang seperti bahasa Jawa yang memiliki level ngoko dan krama sehingga bersifat egaliter, mempermudah makna untuk melintas di antara generasi muda dan tua. Tidak ada ekslusivitas, tidak harus baku, tidak harus sempurna. Indonesia memang tempatnya menerima semua yang berbeda-beda tapi tetap satu tujuan. Maka dari itu, basantara kita—bahasa Indonesia—adalah bahasa yang begitu istimewa untuk menjadi pemersatu bangsa.
Komentar
Posting Komentar