Agak Merenung Dikit
Hari ini aku bangun pagi, yang gak pagi-pagi amat. Aku baru mengumpulkan kesadaran penuh waktu kulihat jam di ponselku menunjukkan angka 07.46. Sebuah privilege untuk manusia yang rumahnya di dalam komplek kantor.
Aku gak langsung mandi, melainkan buka instagram dulu. Siapa sangka, di feed pertama yang muncul di situ adalah akun teman SMA-ku yang kelasnya sebelahan dengan kelasku. Dia lolos seleksi beasiswa nasional paling keren dan OTW kuliah di luar negeri. Sebenarnya aku gak heran karena dia memang cukup pintar.
Kalau kubilang dia mantan anak olimpiade, yah, sebenarnya aku pun mantan anak olimpiade. Aku dari satu sekolah yang sama-sama dia. Bisa dibilang, pencapaian yang seperti itu bukan mustahil juga buat aku kalau aku mau.
Aku nggak sedang ingin mengeluh.
Sejak mandi sampai kakiku menginjak lantai kantor yang baru kering habis dipel, aku terus menerus memikirkan hidupku. Satu-satunya lagu yang berputar di kepalaku cuma penggalan lagu "Jakarta Ramai"-nya Maudy Ayunda.
"Apa kabar mimpi-mimpimu?"
"Apa kau tinggal begitu saja?
"Apa kabar angan-anganmu hari ini?"
Pas sudah di kantor, aku cerita ke beberapa temanku kalau ada teman SMA-ku yang lolos beasiswa. Tau apa tanggapan mereka?
"Gak mungkin kau bisa."
"Nggak akan kau dapat."
"Gak usah berharap, nggak bakal kau dikasih izin."
Mereka semua mematahkan cita-citaku. Tapi kalau aku patah lagi, aku merasa sudah tidak ada lagi penyemangat hidupku.
Aku cuma bisa bilang, "Bodo amat." Aku bukan mereka yang sudah patah cita-citanya.
Aku masih punya cita-cita, meskipun hidupku nanti entah menjadi seperti apa. Aku masih ingin menggenggam erat harapan hidupku. Aku tidak ingin hidupku ditentukan oleh siapapun kecuali Allah.
Aku bukannya sok agamis, aku tahu diri aku banyak dosa. Tapi aku tidak mau berputus asa dan masih ingin punya iman.
Komentar
Posting Komentar