Harga Teman?
Aku jujur nggak tahu apakah aku melakukan blunder dalam sebuah pertemanan.
Jadi kasusnya itu aku punya seorang teman dari internet. Aku kenal dia dari fanbase sepasang aktor dan aku udah cukup lama ngobrol sama dia. Yah, nggak lama-lama amat sih, seenggaknya dari awal tahun 2026. Kami ngobrol tentang banyak hal dan mungkin aku merasa bahwa dia ini salah satu teman akrabku.
Masalahnya adalah ketika dia minta dibikinin fanfic sebanyak minimal 10 chapter dengan tema dan alur yang sudah dia tentukan. Kenapa ini masalah? Ya jelas masalah dong.
Yang pertama, penulisan fanfiction jelas tidak bisa dikomersialisasikan—yang berarti aku tidak akan dapat fee sepeserpun meskipun aku yang menulis.
Harus diketahui juga bahwa menulis memang makan pikiran dan tenaga. Dari proses ‘semedi’ mencari wangsit, membayangkan setiap scene, meluruskan jalan pikiran, membuat plot utuh, mengetik cerita dari awal sampai akhir, dan belum termasuk proses penyuntingan, semuanya benar-benar makan fokus, waktu, dan tenaga. Kalau aku memenuhi permintaan itu, berarti aku harus menyelesaikannya sampai akhir supaya nggak dibilang orang yang nggak amanah. Tapi kalau sudah amanah pun, ya tetap aja itu fanfiction yang tidak boleh dikomersilkan sehingga I’m just doing a free labor yang bahkan costs-nya aku sendiri yang nanggung. Bayangkan waktu weekend yang bisa dibuat jalan-jalan atau males-malesan malah harus jadi mantengin HP atau laptop demi ngetik, kalau aku bingung nanti bingung sendiri, kalau aku capek nanti capek sendiri, nggak ada yang bisa gantiin nanggung kejenuhanku di kantor selama weekdays, dan aku masih harus jadi pekerja gratisan yang cuma dibayar dengan credit berupa tag akunku di halaman Wattpad dia? Wow. It sounds fun tho.
Yang kedua, ini lebih berhubungan dengan rasa kedengkianku or whatsoever, tapi karena ini catatan pribadiku, jadi aku bakal mengakui semuanya.
Temanku ini suka marah-marahin silent reader di laman Wattpad-nya. Aku sudah pernah bilang kalau aku kurang setuju sama sikapnya, tapi ya… ya udahlah ya. Dan karena dia aktif di Tiktok, dia sering promosi ceritanya, dia sering bikin reels atau potongan AU dari fanfic yang dia buat sendiri, dia jadi punya banyak penggemar dan pembaca. Interaksinya di Wattpad pun juga bertambah dan cerita-cerita yang dia buat jadi banyak pembacanya. Karena kebiasaannya juga yang agak sumbu pendek, kadang dia kalau ngerasa benar bakal jadi keras kepala, bahkan dia sudah beberapa kali cerita kalau dia ngajak ribut penulis lain.
Sedangkan aku? Aku malas ribut. Aku jumpa orang pun dah capek apalagi mau ribut.
Terus dengan dia minta dibuatkan fanfic itu berarti aku harus berkompromi dengan dia. Ketika aku tidak bisa portray cerita sesuai dengan ekspektasi dia, dia bakalan protes. Setelah dia yang protes, siapa yang kerja? Aku. Terus aku setelah ngerjain itu semua, aku dapat apa? Nggak ada. Aku cuma dapat capeknya doang.
Pembaca-pembaca di akun dia nggak bakal banyak yang bermigrasi ke akunku. Aku juga mau nagih exposure juga nggak akan bisa. Jadi aku kerja ini nggak dapat apa-apa. Sedangkan aku sendiri mikirin buat ceritaku yang belum selesai, cerita yang pembacanya dikit, cerita yang memang mau aku buat sesuka hatiku dan mengikuti logikaku.
Yang ketiga, alasan dia memilih aku untuk nulis fanfic-nya. Aku nggak tahu kenapa dia memilih aku secara tiba-tiba untuk menuliskan fanfic dia, tapi aku merasa ini nanti bakal menjadi celah di mana dia bisa take advantage.
Aku memang suka baca novel cetak, aku juga suka bahasa baku karena aku pernah tinggal di daerah dominan Melayu, aku juga sebisa mungkin nulis dengan rapi karena dari kecil aku memang suka menulis. Tapi kalau misalnya semua resource itu diberikan aksesnya secara cuma-cuma with nothing in return ya pasti aku devastated dong.
Jujur, aku nggak berani baca cerita yang dia buat karena dia suka marah-marah sama silent reader yang nggak vote dan komen, sedangkan aku sendiri tipe orang yang memang suka nge-judge tapi lebih sering diam. Aku capek banget kalau harus nambah-nambahin musuh di dunia maya padahal yang di dunia nyata juga udah banyak banget. Belum lagi kalau cerita yang dia buat ini nggak bisa aku terima logikanya, aku bakal refleks, “Oh, I have read, and I must judge,” yang tidak mungkin menggunakan kata-kata yang halus.
Aku tahu aku nggak se-jago itu, tapi aku juga kesal kalau tenagaku ini cuma dianggap gratisan. Akhirnya aku ngeles dengan bilang banyak penulis lain yang lebih oke daripada aku. Apalagi dia sering ribut sama penulis lain, followers akunnya lebih banyak, dia bahkan bisa ngumpulin massa untuk hal-hal remeh yang dijadikan bahan war. Aku nggak mau nambahin masalah-masalah kayak gitu.
Kalau dia pingin nulis yang lebih rapi, ya latihan lah. Kalau mau nulis yang lebih panjang, coba baca bahan-bahan lain. Kalau nggak punya inspirasi, ya cari info-info baru kayak sejarah kek, politik kek, atau apa kek. Aku juga tiap hari dengerin podcast, nonton drama, baca novel, dll. Untuk menyerap semua itu juga jujur butuh banget tenaga. Dan balik di awal, aku nggak mau tenagaku terbuang percuma demi sesuatu yang nggak bisa aku nikmati hasilnya. I’m not doing a charity kalau caranya seperti ini.
Karena aku sudah menolak permintaannya, dia jadi ngambek. Selama beberapa hari ini dia nggak ngobrol sama aku lagi. Ya daripada aku iyakan demi ngobrol doang? Ya menurutku sih, fair enough kalau aku menolak demi greater goods. Dan sejujurnya aku nggak ngerasa bersalah meskipun aku beberapa kali kepikiran soal ini. Kurasa kalau aku nggak pernah tinggal di Sumatra, aku nggak akan bisa se-frontal ini menolak orang.
Kalau dia mau nyari penulis lain yang dirasa lebih jago, ya oke. Aku juga nggak akan marah atau dengki. Toh kalau ngomongin standar, aku lebih terpapar dengan buku-buku novel cetak yang minimal terbitan Mizan, Kompas Gramedia, atau kadang juga Harper-Voyager. Meskipun kadang aku ngerasa down karena pembacaku sedikit dan mikir kalau aku punya skill issues, tapi aku nggak masalah karena memang aku sadar tulisanku belum oke banget dan tujuan aku nulis ini buat kesenangan pribadi, bukan monetisasi atau jadi pemasukan utama. Aku juga bukan yang kepingin banget terlalu terlibat dalam komunitas yang banyak dramanya. Aku nggak suka kubu-kubuan. Aku juga nggak kepingin nambahin pikiranku dengan hal-hal yang ngadi-ngadi.
Jadi, yah, aku nolak permintaannya—mungkin dengan cara yang kelihatannya nyelekit, tapi aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku baru sadar kalau itu nyelekit setelah mikir beberapa saat kemudian. Mungkin aku blunder soal keputusan ini karena memengaruhi pertemanan, tapi meskipun punya teman juga aku tetap bakal merasakan stress-nya sendirian. Akhirnya aku milih diriku sendiri daripada nanti risiko lebih besar.
Tbh, aku nggak benci dia. Aku cuma kesal dengan potensi dia yang menjadikan aku dan tenagaku sebagai bahan gratisan kalau dilihat dari keadaan dan kepribadian dia.
Dan sejujurnya, aku nggak punya harapan lebih besar terhadap pertemanan ini. Dia sendiri umurnya udah 30-an dan aku barusan 26. Kalau dia mau walk-away, aku nggak akan keberatan. Dari dulu juga aku nggak mau maksain diriku atau orang lain supaya cocok kalau memang nggak bisa.
Komentar
Posting Komentar