Irks
Tadi siang, aku lagi mijitin mamaku dan awalnya pembahasan berputar di sekitar rasa syukur karena akhirnya aku pindah dari medan setelah dua setengah tahun kayak di kerak neraka. Terus mamaku tiba-tiba ngomongin usahanya berdoa setiap malam supaya aku bisa cepat dipindahkan ke Jawa.
Ya, oke, aku terima sampai di situ.
Yang bikin aku kesel adalah ketika mamaku selalu bilang sejak tes kuliah beliau menganggap badanku GAK PANTAS masuk kuliah semi-militer.
Padahal betisku bengkak karena latihan lari buat samapta.
Padahal aku belajar dari kecil sampe besar. Aku berusaha untuk selalu masuk sekolah negeri yang bagus supaya pendidikannya berkualitas tapi tetap gratis. Bahkan SPP 150 ribu di pertengahan kelas XI sampai lulus aja bisa dijadiin bahan keributan. Aku ambisius di tengah-tengah ratusan anak ambisius lainnya supaya nggak punya gap akademis dan aku bisa loh dalam beberapa kesempatan itu berada di posisi teratas.
Aku belajar sampai muntah.
Aku dibangunin pagi buta, habis sholat subuh langsung berangkat ke sekolah yang bahkan pagarnya belum dibuka. Aku akhirnya tidur di depan kelas atau di masjid. Aku nahan sakit karena nggak boleh bilang capek karena milih sekolah jauh adalah keputusanku.
I was a child, then. I was just a kid.
Seandainya sifatku kayak anak lain di kampung, nggak ambisius, nggak peduli sama akademik, nggak peduli mau jadi apa, bandel setengah mati, apa aku juga bakal sampai ke titik ini hanya bermodal doa?
Ini badan yang sama dengan badan bayi yang dulu dilahirkan.
Badan ini juga yang jatuh bangun bertahan hidup. I was planning to stop 'living' then. Kalau nggak ingat nyawa itu milik Tuhan semata, aku pasti sudah melepaskan hidupku sejak lama.
Badan ini yang bertahan demi cita-cita. Badan ini yang berusaha mencapai titik ini. Badan ini yang sudah rela sengsara, dan usahaku juga dilihat Tuhan.
Komentar
Posting Komentar