Double Check



Tulisan ini aku persembahkan untuk kalian-kalian yang baru memahami sesuatu (ideologi, pemikiran, pemahaman).

**************


Suatu hari ketika aku gaada kerjaan, aku iseng menanggapi status WA salah satu juniorku yang tampaknya sedang euforia pada ideologi khilafah. Di postingannya itu berisi tentang salah satu tanggapan seorang professor terhadap suatu buku yang berisi perjalanan penyebaran islam ke banyak tempat. Dikatakan bahwa professor tersebut meyakini bahwa ketika masa kekhalifahan islam ottoman, hampir segala hal berjalan dengan damai.

Aku... jengah terhadap ide tersebut. Pasalnya aku lahir di keluarga yang heterogen dan memiliki lingkungan dengan tipikal orang yang tidak konservatif. Di sisi lain aku juga memiliki teman yang yang konservatif secara budaya dan norma. Aku merasa sudah terlalu lelah mengusik kedamaian dunia hanya demi willingness beberapa orang yang belum tentu kompetensinya bagus hanya karena ambisi dan ego semata untuk menguasai dunia.

Lanjut.

Aku iseng saja mengetik nama professor itu di google. Dan hasilnya? Tidak ada. Tidak ada professor dengan nama yang tertera di kutipan tersebut. Tidak ada nama, publikasi ilmiah, afiliasi pendidikan, kontak resmi. Semua tidak ada.

Tanganku begitu gatal berkomen dan jadilah aku menanggapi status whatsapp-nya.

Yang paling membuatku jengah adalah:

1. Dia tidak cek apakah info itu valid atau tidak

2. Dia menyangkal tanpa membaca sumber asli langsung

3. Dia tidak mau membaca buku aslinya karena kesulitan berbahasa inggris

APA SUSAHNYA NGECEK INFO VALID ATAU NGGAKNYA SIH?

Aku berada di lembaga pendidikan, meskipun masih dalam kelas teri, tapi kami diberi gambaran tahapan untuk memperoleh status akademis. Apa saja syaratnya, harus menempuh apa dulu, harus memenuhi kriteria apa dulu.

Okelah katakan kalau dia lupa. Tapi dia juga sekolah. Dia belajar bagaimana caranya membuat skripsi. Dia tahu caranya mencari referensi yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan validitasnya.

TAPI DIA TIDAK MENERAPKAN SEMUA ITU IBUNDOOOOOO

Maksudku, untuk skripsi saja rela mencari sumber referensi valid, kenapa untuk ideologi kamu berani asal comot quotes random dari internet tanpa ngecek dia itu beneran bener atau cuma buzzer doang?

Terus unwillingness-nya untuk berusaha membaca sumber asli buku yang dimaksud karena berbahasa inggris itu membuatku lebih greget. Se-payah apapun kamu sebagai orang Indonesia, sebaiknya belajar tiga pokok bahasa utama. Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa inggris. Tidak perlu terlalu fasih, cukup untuk mengerti konteks saja agar kamu tidak mudah dibohongi.

Dan aku penasaran, kenapa orang memisahkan agama dari ilmu pengetahuan yang lain sehingga menciptakan pola pikir yang timpang. Orang tidak kritis terhadap hal-hal yang dihadapi atau orang yang terlalu menentang eksistensi Ilahiah dan bertindak tanpa moral.

Lagipula, kalau boleh jujur, ritus ibadah memang berpengaruh kepada hubungan individu dengan Tuhan secara spiritual. Tapi apa hasil dari ritual ibadah tanpa hal lain yang membuat peran sebagai manusia di dunia itu menjadi jelas?

Kamu ibadah secara ritual, lalu apa? Apa yang kamu hasilkan dari ibadahmu jika kamu tidak berperan dalam kehidupan di bumi ini? Sedangkan kalau kamu ingin berperan maka kamu harus memiliki ilmu yang sufficient untuk mejalani hidup di dunia.

Lagipula, mempelajari bagaimana alam diciptakan, proses yang terjadi di alam, hidup sebagai manusia dan berdampingan dengan makhluk hidup lainnya, mempelajari bagaimana hidup dan mati, semua dinamika di dalam alam ini, semuanya adalah ilmu milik Allah.

Kenapa harus ditimpangkan dengan mengambil salah satunya saja?

Akhirnya jadilah pola pikir kurang mendalam seperti ini yang hanya menerima semua informasi tanpa diselidiki lebih lanjut. Kalau sudah begini, mau meningkatkan kualitas umat yang gimana lagi? Info gajelas aja langsung disebarin kok.

Jadi, tolong bagi kalian, siapapun yang sedang euforia pada pemahaman apapun, tolong jangan langsung percaya walaupun tampaknya mendukung pemahamanmu.

Tolong terapkan daam kehidupan sehari-hari supaya tidak mudah terprovokasi dan termakan iklan, ditipu, atau hal-hal buruk lainnya.



Oke cukup. Terimakasih sudah berkunjung.

Komentar

Postingan Populer