Being an Only Child
Bukan topik baru sih, yet, I feel soooooooooo itchy (maksudku, aku gatel banget pingin bahas ini) karena banyak banget orang di sekitarku atau bahkan orang yang ga kenal aku langsung ngecap "Enak ya jadi anak tunggal, dimanja banget."
Enak dari hongkong.
Aku terlahir sabagai anak tunggal perempuan setelah empat tahun pernikahan orangtuaku. Aku anak pertama, dan anak terakhir. Selalu menjadi satu-satunya sampai makhluk kecil berbulu dan mengeong datang menyerang.
Kondisi ekonomi keluargaku waktu itu termasuk menengah ke bawah. Ditambah aku yang sakit-sakitan sampai umur tiga tahun, hal itu mungkin membuat orangtuaku merasa sudah cukup lelah dengan satu anak saja. Lagipula ayahku sudah lelah merasakan hidup dengan banyak saudara sehingga tidak ingin aku mengaami hal seperti itu lagi.
Hal-hal menyenangkan terjadi ketika aku melihat semua sepupuku yang sering bertengkar dengan saudara kandungnya lalu kubandingkan sendiri dengan hidupku. Aku tidak suka, dan tidak ingin merasakan pertengkaran dengan saudara kandung baik itu tentang masalah kecil maupun besar. Semua ini kusadari ketika aku beranjak dewasa dan jiwaku mulai menua (aduh.) aku merasa mudah lelah dengan konflik yang melibatkan perasaan dan hal-hal yang tidak ada solusinya. Aku juga kurang suka terlalu mengalah kepada orang lain ketika aku tidak sepenuhnya merasa perlu mengalah.
Sejak kecil aku paham betul betapa orangtuakku tidak akan pernah bisa bersikap adil jika ada lebih dari satu anak di rumah sehingga aku tidak ingin memiliki saudara kandung.
Sedangkan menurutmu, hal apa yang kira-kira tidak menyenangkan ketika menjadi anak tunggal?
Kesepian? Tidak ada teman bercerita? Tidak punya teman bermain?
Tentu saja bukan.
Kesulitanku addalah ketika orangtuaku masih saja mencari pembanding untukku dalam hal pencapaian. Aku merasa kurang dihargai ketika ibuku malah lebih menangisi sepupuku yang lahir dari keluarga lebih berada hanya karena dia naik angkot untuk pulang sekolah padahal kakiku nyaris patah berkali-kali karena kecelakaan sepeda dan kuobati sendiri dan aku menahan semua rasa sakit itu sendiri.
Aku kesal ketika orangtuaku menganggap punya adik atau saudara kandung adalah solusi ketika aku tidak menjadi sesuatu yang mereka harapkan. Dan aku kewalahan ketika orangtuaku meminta hal-hal yang membuatku begitu kesulitan tanpa mau mengerti apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku juga kadang merasa lelah jika semua orang sedang bermasalah denganku terutama orangtuaku. Hal itu membuatku merasa seperti orang yang tidak berguna dan percuma dilahirkan di dunia.
Beberapa hal yang banyak sekali dikatakan oleh orang lain tentang anak tunggal yang menurutku tidak tepat yaitu:
1. Kesepian.
Masa bodoh dengan kesepian. Di sekolah, di tempat kerja, di tempat umum ada begitu banyak orang dan aku tidak merasa benar-benar bisa sendiri.
2. Manja
Jika kalian memang tahu siapa aku, kalian pasti tahu bagaimana dari kecil aku dididik untuk mengurusi diriku sendiri. Aku memang dicukupi oleh kedua orangtuaku tapi selalu menyodorkan kalimat "Kamu besok harus bisa semuanya sendiri." Dan ya, selangkah kakiku keluar rumah, sejak saat itulah aku menanggung semua yang terjadi pada diriku sendiri.
Kadang menyebalkan juga ketika orang mengatakan hal seperti itu ketika aku sedang mengalami tahun-tahun tersulit dalam hidupku dan idealisme orangtuaku sama sekali tidak membantuku. Seakan-akan aku ingin sekali menjebloskan orang seperti itu ke dalam sekolahku.
3. Tidak ada yang membantu
Kurasa sudah cukup aku merasa terbebani dengan hidupku sendiri yang terseok-seok. Masih ada ekspektasi orangtuaku dan aku juga ingin memastikan orangtuaku berkecukupan dengan penghasilanku sendiri. Aku juga merasa beruntung karena tidak memiliki saudara kandung yang lebih kecil membuatku bebas dari tanggungan untuk membiayai orang lain dalam jumlah besar dan jangka waktu yang lama.
4. Tidak ada teman bermain
Orangtuaku sulit mengijinkan aku bermain. Jadi buat apa?
Sedangkan beberapa hal yang menurutku benar adalah :
Egois
Ya sedikit. Aku tidak suka jika hanya mendapatkan setengah dari yang seharusnya kudapat. Aku tidak suka bertengkar untuk mendapatkan perhatian dari orangtua. Aku tidak ingin membagi semua kenyamanan yang aku dapatkan dari orangtuaku secara masif.
Aku tetap berbagi bila hal yang kubagikan memang bukan hal berat dan tidak memerlukan perebutan, persaingan, perdebatan, dsb. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya.
Hal ini begitu terasa ketika aku memiliki hubungan afeksi kepada beberapa orang terdekatku. Especially a man whom I have a courtship with. Memang aku tidak se-posesif dan se-obsesif itu kepadanya, tetapi beberapa kesalahan yang memang tidak bisa ditolerir akan lebih membuatku mudah terluka sehingga ia sangat berhati-hati kepadaku.
Hal lainnya yang kurasa membuat sedikit berat adalah ekspektasi orangtuaku terhadap semua orang dan segala hal yang ada di sekitarku. Aku harus menjadi apa, bergaji berapa, menikah di usia berapa, sukses itu yang seperti apa, suami dengan harta sebesar apa. Itu melelahkan.
Pada akhirnya, menjadi anak tunggal, pertama, kedua, tengah, kesekian, ataupun terakhir memiliki beban tersendiri. Semua orang memang akan menanggung beban sesuai perannya. Jadi meskipun aku mengeluh, nyatanya tidak ada yang bisa dihasilkan dari mengeluh selain tulisan ini. Yang kulakukan hanyalah menjalani hidupku ke arah yang kurasa lebih baik daripada sebelumnya.
Semua tuntutan dari keluargaku tidak membuatku kehilangan rasa sayangku terhadap keluarga karena jika ada apapun yang terjadi padaku, maka merekalah yang akan datang padaku on the first place. Dan aku akan menjadi pribadiku sendiri, kalau memang aku merasa tuntutan keluargaku itu baik maka aku akan mengikuti, tetapi jika aku merasa tidak cocok maka aku akan mencari jalan lain juga.
Sekian keluhan hari ini. Terimakasih sudah berkunjung.
Komentar
Posting Komentar