Alasan Kenapa Aku Harus Berhenti Membenci Badanku
Reasons Why I Should Stop Hating My Own Body
1. Badanku yang melakukan apa yang aku mau.
Aku kepingin jalan ke sana sini, kakiku yang gerak, sampai dia berotot, bengkak bahkan varises.
Aku harus motong material, tanganku yang gerak, sampai dia memerah dan gemetar. Walaupun gitu, aku terus memaksanya buat pegang pulpen dan nulis banyak padahal aku tahu tanganku sebenarnya sudah kesakitan.
Aku sering pushing my body into my limit, dan badanku gak pernah nolak. Instead, dia berusaha menyesuaikan dan jadi semakin kuat.
2. Badanku pintar
Aku nggak pernah mengobati luka-lukaku. Aku nggak pernah benar-benar memperbaiki cederaku. Tapi badanku bisa membuat lukaku kering, cederaku pulih, dan aku kembali seperti biasa lagi.
Aku pernah memaksa badanku menerima obat-obatan yang nggak perlu secara berlebihan, tapi dia bisa menyerap racunnya dan tetap mengambil yang aku perlukan.
Badanku tahu apa yang aku sebenarnya butuhkan, lebih dari perasaanku. Walaupun aku mengambil tindakan yang nggak tepat sekalipun, badanku bisa ngerti dan berusaha menjalankan hal yang seharusnya dilakukan.
3. Badanku melindungi dirinya sendiri
Aku sering sakit, tapi kubiarkan. Badanku bisa melawan penyakit itu. Badanku melakukan hal-hal yang penting tanpa aku sadari, demi menjaga kelangsungan hidupku. Padahal aku nggak pernah bener-bener menjaga kesehatanku. Aku nggak terlalu peduli, pokoknya rasanya nggak sakit. Tapi badanku memastikan semua berjalan sesuai kebutuhanku.
4. Badanku lebih peka dengan diriku
Kalau aku mau jalan, padahal kakiku lagi bengkak, ototku sebenarnya masih rusak, tapi badanku malah menyusun otot baru, yang lebih kuat karena aku harus jalan.
Kalau aku emosi, badanku bahkan bisa bikin aku nangis atau ketawa edan, mengeluarkan semua hormon yang berusaha bikin aku merasa lebih baik dengan segala cara yang menurutnya perlu.
Kalau aku takut, aku bakal deg-degan, dan mayoritas energiku bakal dikeluarkan karena aku lagi alert untuk menghadapi apa yang bakal terjadi.
Kalau ada apa-apa dengan badanku, dia berusaha memenuhinya dengan apa yang ada. Dia berusaha sebaik mungkin agar aku tetap baik-baik saja dengan caranya sendiri.
5. Badanku yang bikin aku bisa menjalani hidup
Badanku nggak pernah meninggalkan aku pas aku lagi susah. Badanku mau menerima dan menjalani hidup samaku yang kadang susah kadang senang kadang gajelas.
Otakku mau diperas, kakiku mau diajak lari sampai bengkak, tanganku mau kerja, jantungku mau berdetak, semua nadi, semua jaringan, semua organ, semuanya menopang hidupku.
6. Aku punya kemampuan, karena aku punya badan ini
Tanpa mata aku gabisa liat, tanpa tulang aku gaada bentuknya, bahkan tanpa lemak aku lebih gatahan pas kena benturan. Semua yang aku bisa sekarang (mikir, ngerasain, nulis, napas, lihat, jalan, dll) semua bisa karena aku punya badan ini. Tanpa badan ini, nggak ada definisi aku, dan aku nggak bisa apa-apa juga.
7. Badan ini tumbuh samaku dari belum lahir
Bahkan badanku mau berkembang, setiap hari dia mau improve dengan kondisiku. Setiap hari dia mau melakukan hal-hal yang perlu aku kerjakan. Badanku bahkan bisa membentuk jaringan ini itu, sel ini itu, yang berkembang karena kebutuhanku. Badan ini berubah dan mengerti apa yang aku lakukan, apa yang aku butuhkan, badan ini berusaha provide all things to make me survived this life.
8. Badanku sebenernya sayang samaku
Kalo gak sayang, gabakal mau nutup luka sendiri, gamau ngelawan penyakit sendiri, gamau mengolah makanan, gamau menjaga buat hidup. Kalo gak sayang, gabakal mau survive. Bahkan kalo orang nyakitin dirinya sendiri pun, badannya masih sayang dengan berusaha sebaik mungkin buat bertahan hidup.
After all these reasons, kenapa aku benci badanku, yet my body still gave its best for me? My body accepted a soul like me to live inside it and love me unconditionally, eventhough if I had torn into pieces inside, my body would try its best to make me survive and stay alive. My body even gives me encourage to break my old way and grow a bigger, stronger, smarter, like its cells and tissues.
Entah kenapa di titik ini, seakan-akan ada bagian dari badanku yang bilang, "I love you, my dear. Even if those people hurt you so that bad, I'll stay with you and heal your wounds. We will face it together, and I will not leave you, even in the afterlife. I'll give you my best, so you can just be a better person each time, and someday will realize how much I love you."
Ya kalo mau dikata ya edan juga. Mana ada organ lain ngomong gitu. Tapi aku ngerasa ini God Spot.
Tiba-tiba aku ingat konsep kebesaran Tuhan, dari syairnya Imaduddin Nasimi. (Yang intinya kira-kira gini).
"Akulah alam semesta, tapi alam semesta bukanlah Aku. Ingatlah, alam semesta adalah tanda dari-Ku."
Aku ngerasa, dengan ngeliat ke dalam diriku sendiri, aku menemukan kehendak Allah yang sudah membentuk aku, kasih sayang-Nya berwujud setiap sel di dalam diriku yang selalu courage untuk menjadi lebih baik setiap waktu.
Di dalam diriku aku merasa aku akhirnya menemukan suatu tanda kebesaran-Nya. Di dalam badanku aku melihat cinta-Nya yang besar banget walaupun hamba-Nya modelnya gatau malu dan ga berterimakasih kaya aku.
Dan sekali lagi hatiku berbisik, "Iya. You found Him."
Tapi jadinya I feel Abu Nawas ketika dia bersyair "ilahi lastu lil firdausil a'la". Iya emangnya pantes orang gatau terimakasih kaya gini dikasih kasih sayang yang sebesar itu? Rasanya seneng banget, tapi ya malu juga.
Sepanjang nulis ini aku nangis sejadi-jadinya tapi berusaha tanpa suara. Rasanya lebih bahagia daripada scene Elsa yang nemu Atohallan di film frozen. Ternyata gini ya rasanya spiritual thoughts through oneself. Ini nyarinya kalo ke luar nggak ketemu, pake mikir malem, waktunya orang tidur malah jempolnya cerewet lagi. Cocoklogi pake ingatan, logika, perasaan, POV lain. Alhamdulillah jadinya begini, walaupun kelakuanku masih somplak juga, seenggaknya aku nemu titik ini untuk yang kedua kalinya. (Yang pertama dulu SMP, via olim dan berbau ilmiah).
Jadi, sekarang aku nggak benci badanku, instead I will try to understand it more and do what it takes to care more. Dan aku berusaha memahami love language baik itu dari diriku, orang lain, nature, or even my God, yang walaupun susah dipahami but I should understand too, I'm sure it will be better soon.

Komentar
Posting Komentar