Share The Same Way
Aku nyeritain tentang buku-buku bacaanku. Aku nyeritain tentang RF Kuang favoritku. Aku nyeritain tentang gimana dia bikin cerita, ngeriset, mendeskripsikan situasi yang ada, dengan kalimat-kalimatnya yang on point dan berpengaruh ke cara penulisanku juga. Aku nyeritain sejarah perang opium, invasi jepang, PKT vs. Kuomintang, revolusi industri, imperialisme inggris, dsb. Aku bisa banget nyeritain hal itu dengan detail, sedetail yang bisa kuingat.
Aku pingin bisa ngerekom buku-bukuku itu ke orang lain yang tertarik sama genre historical, war, sama politik.
Entah kenapa tiba-tiba aku inget orang yang dulu pertama kali nunjukin tulisannya sama aku. Aku selalu mengkritisi tulisan dia, kek permasalahannya tuh selalu cinta segitiga yang memuakkan dan plot sulit yang gabisa diputuskan endingnya.
Aku ngerasa kek pingin banget ngomong ke dia, "nih aku punya buku ini. Ini genrenya minim cinta-cintaan tapi bagus banget sih buat referensi penulisan tema historical dan war wer wor gitu. Kalo yang ini tuh tentang revolusi industri di inggris sama penerjemahan, tapi ngaruh ke imperialisme inggris dan perang-perang di PD I. Keknya kamu perlu baca deh."
Aku juga tiba-tiba ngerasa kek... Aku pingin banget diskusi soal wattpadku. Aku tau pembacanya udah banyak dan aku seneng. Tapi aku pengen ngasih tau dia gimana plot cerita yang mau kubuat. Aku pingin bikin sesuatu dengan plot yang ga dangkal tapi ga pake acara cinta segitiga yang memuakkan itu.
Aku selalu nulis dengan mikir kek gimana biar cerita ini masuk akal, gimana biar emosinya tersampaikan tapi tetep on point karena aku ga tahan dengan diksi alay yang muter-muter ga jelas kaya tulisan bocil. Aku pingin nyeritain cerita pertamaku di genre historical kerajaan dengan romance tapi ada selipan genre lainnya.
Dan kadang pas aku bikin cerita, aku bikin sesuai ekspektasiku sama orang lain. I want a hard-working but loving spouse. I want to live in wealth where I would never been stressed out because of our needs. I want to work because I wanted to, not because of my family's economics condition.
Aku juga bikin bagian kehilangan dan kesedihan seperti rasa merana yang udah pernah aku rasakan. Aku bener-bener numpahin perasaanku di situ. Aku nulis bahwa aku baik-baik aja awalnya, tapi lama-lama terasa sakit, habis itu hampa. Kaya, hidupku ga seperti dulu, aku kehilangan arahku, dan meskipun dia kembali lagi tapi aku ga bisa karena aku pingin sesuatu yang lain.
Aku pingin kek ada orang yang sefrekuensi sama aku lagi. Aku pingin aku bisa jujur dan punya tempat yang aman untuk jadi diriku sendiri. Aku pingin diterima sepenuhnya meskipun banyak dalam diriku yang penuh kontradiksi.
Kalo boleh diakuin, you were my love. You used to be my other side, the darker one behind the unbreakable wall of my heart. The traces you left were still there, and I picked them one by one, sticked them to be a mozaic of my life.
Aku nggak pingin dia kembali. Aku mau orang lain yang lebih baik daripada dia.
No, i don't love you anymore. I can not love you, neither now nor tomorrow. Not even in the future. I don't want to be with you. But I do really wish that you and me, one day, walk through the separate ways with chin up and pride.
Komentar
Posting Komentar