Pencari


Gelap.
Aku tersesat.
Ke mana lagi, ke mana lagi kucari
Jalannya hidupku?
Alurnya jiwaku?
Sangga hatiku?

Buntu.
Tembok tinggi di depanku, menjulang.
Tak bisa kulihat di mana ujungnya, di mana cela(h)nya.
Aku terbentur, tak bisa mundur,
Aku yakin sudah babak belur.

Tapi napasku masih ada.
Semua ini,
Belum selesai.

Aku tak mau mati gentayangan karena hidup dalam ketidaktahuan.

Raga pucat pasi akan jadi bangkai di dalam bumi,
Tapi bukan berarti hidupku berhenti.
Tintaku akan mengering, dan siapa yang tahu apa yang akan terjadi.
Kalau jemariku tak sanggup menulis lagi,
Belum tentu jiwaku ikut mati.


Banyak yang menyuruhku berhenti, banyak yang memintaku menyudahi
Pelarian ini, pencarian ini.
Jiwaku tak puas. Jiwaku ingin bebas.
Jiwaku terus mencari hakikat yang belum pernah kulihat dan kudengar.
Jiwaku tak pernah merasa hilang hausnya,
Bahkan dalam lautan, aku akan melebur di dalamnya.
Menjadi butiran garam kecil yang tak kasat. Menjadi partikel yang saling mengikat.


Tanah bisa kugali, lautan bisa kuarungi,
Gunung sanggup kudaki, dan lembah boleh kuturuni.
Sembilan nyawaku yang berharga ini, hanya akan habis
Pada waktunya aku berpulang dengan tenang.
Tapi sebelum itu, aku akan terus mencari seribu jalan,
Aku akan terus mencari kebenaran. Aku akan menuju kebebasan.




(Lalu aku melihat kehampaan. Semua kilasan.
Melihat yang tak pernah dilihat, mendengar yang belum pernah didengar.
Semua kefanaan sirna. Semua realita sirna.
Tinggal satu sujud semata.)



-Adamantium Invictum

Komentar

Postingan Populer