Teratai yang Tenggelam




"Bagaimana jika kami menjodohkanmu?"

Lan Wangji menyesap teh dari cawannya. Hakim muda yang merupakan adik dari Staf Menteri Pendidikan, Lan Xichen, masih belum bergeming dengan tawaran pamannya.

"Aku akan mempertimbangkannya, Xiongzhang," ucapnya dengan hati-hati.

Muda, tampan, cerdas, bijak, kuat, dan nyaris sempurna. Hanya sifat dingin dan kakunya yang bisa ditembus oleh kakak dan pamannya, itulah satu-satunya kekurangan dalam diri Lan Wangji. Entah benteng apa yang ada di dalam dirinya sehingga tidak ada orang di Gusu, Lanling, Qinghe, maupun Qishan yang mampu menarik perhatiannya.

"Baiklah, Wangji. Aku dan paman hanya ingin kau bahagia," pungkas Lan Xichen. 

Mereka berdua melanjutkan makan malam dengan tenang.

000

Pagi itu, Nie Mingjue memberi tugas kepada Lan Wangji untuk menyelidiki kematian misterius lima orang di Yunmeng. Beritanya datang tiba-tiba sehingga Lan Wangji bergegas untuk menuju ke sana.

"Temuilah Jiang Wanyin untuk membantumu," kata Nie Mingjue sebelum ia berangkat. 

Lan Wangji sampai di sana pada malam hari. Sesuai saran, Jiang Wanyin membantunya dengan penyelidikan dan menyediakan tempat untuk bermalam. Karena belum menemukan jejak dan masih menyelidiki kedalaman Danau Yunmeng, serta pengujian kandungan racun dalam air juga belum selesai, mereka memutuskan untuk kembali besok.

Lan Wangji yang agak lelah karena perjalanan jauh dan mendadak segera beristirahat di ruangan yang telah disediakan oleh Jiang Wanyin. Matanya mulai terasa berat dan ia dengan cepat memasuki alam mimpi.



000


"Lihat, apakah ini yang dicari?"

"Hmm... Tubuhnya beraroma bunga magnolia, harum sekali..."

Lan Wangji mendengar suara perempuan yang saling berbisik dari sela-sela teratai yang tumbuh subur di Danau Yunmeng. Ia curiga kalau ada pembunuh bersembunyi di balik daun-daun lebar yang mengapung itu.

"Jangan didekati, dia akan jadi milik tuan..."

"SIAPA DI SANA?!" Teriaknya menutupi rasa takut.

Tidak ada jawaban. Tidak ada suara perempuan-perempuan yang tertawa dengan cekikikan dari dalam danau.

Lan Wangji menunggu beberapa saat sampai semuanya kembali hening. Setelah ia merasa yakin, ia berbalik badan, tetapi ada seorang pria yang terlihat...

Menarik.

Wajahnya tampan, tetapi garis-garisnya tidak tegas. Pinggangnya ramping, tetapi beberapa sisi tubuhnya lebih berisi. Matanya menyiratkan kesedihan, tetapi gerak-geriknya sedikit lebih halus. Bibirnya merah dan rambutnya tergerai indah. Jubah hitam dan pita merah di rambutnya tertiup angin menambah lengkap keindahan itu.

Lan Wangji terpana. Baru kali ini ia melihat sesosok dengan kecantikan sempurna seperti itu.

"Apa yang kau cari di tempat ini?" Tanya sosok itu dengan lembut.

"Aku ingin mencari ke mana perginya lima orang yang hilang tenggelam dari Yunmeng," balas Lan Wangji pelan.

"Tuan tampan, mengapa repot-repot? Mereka semua sudah mati."

"Di mana jasadnya?"

"Hmm? Kau ingin lihat mayat-mayat itu? Daripada begitu, lebih baik ikutlah denganku. Ada hal yang harus kau ketahui di sini."

Lan Wangji terpukau dengan senyuman menggoda dalam ajakan itu. Ia membiarkan tangannya digandeng oleh pemuda berpita merah itu menuju ujung dermaga. Tangannya merasakan dingin, tetapi tangan pemuda itu memang pas sekali dalam genggamannya.

Rasanya ia tak ingin melepaskannya begitu saja.

Tiba-tiba mata pemuda itu menjadi merah, wajahnya menyiratkan kesedihan dan amarah. Lalu ada bunyi lolongan yang teredam di antara air dan akar-akar teratai yang menjalar.

Semuanya gelap.


000


Lan Wangji kembali melanjutkan penyelidikannya siang itu. Setelah bangun dengan cara terjatuh dari tempat tidur dan keringat dingin yang cukup banyak, tapi tubuhnya saat ini tidak sedang sakit.

'Itu cuma mimpi buruk,' batinnya menenangkan.

Kedalaman danau yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya, ditambah akar-akar teratai yang saling menopang satu sama lain, membuat kematian ini tak masuk akal. Airnya pun tawar walaupun agak amis, tidak mengandung racun, dan tidak berbahaya jika tertelan.

Seharusnya orang-orang itu masih bisa bertahan. Bahkan Sungai Caiyi yang ada di Gusu tampak lebih berbahaya daripada Danau Yunmeng.

Penyelidikan berlangsung dengan buruk. Tak ada saksi mata malam itu. Tak ada tanda pembunuhan secara sengaja. Tak ada juga tanda penculikan dengan paksa. Semua orang ini seakan dengan sadar meninggalkan perahu mereka dan menghilang begitu saja.

Lan Wangji kebingungan, Jiang Wanyin juga tak menemukan apa-apa dari warganya. Tak ada yang bisa dicari, tetapi juga tak ada alasan untuk menyudahi penyelidikan ini begitu saja. Mereka kembali ke rumah dengan tangan hampa.


000


"Tuan tampan, tidak menyukainya?"

"Aku... suka..."

Pemuda berpita merah itu tersenyum manis dan melingkarkan tangannya ke bahu Lan Wangji. Mengajaknya untuk bercumbu lagi dan lagi di bawah sinar purnama yang memantul di permukaan danau.

Baru kali ini Lan Wangji menginginkan hasrat yang begitu asing baginya. Dengan adanya pemuda itu dalam pelukannya, Lan Wangji merasakan kerinduan dan keinginan untuk melindunginya yang sangat besar.

"Tuan tampan, apakah kau mau berada di sisiku selamanya?" Tanya pemuda itu dengan manja.

"Tentu. Aku akan membawamu pulang ke Gusu, lalu meminta kakakku untuk menyiapkan pernikahan kita, lalu kita akan meminta restu dari pamanku—"

"Sshhhh....," potongnya. "Yang penting kau tidak akan pergi dariku, hm?"

"Itu benar. Aku akan selalu berada di dekatmu."

Pemuda itu tersenyum, tapi kali ini senyum menahan kesedihan. Matanya menjadi merah dan menarik Lan Wangji untuk memasukinya. Ia tersedot dalam ruang hampa.

Ia terlempar kembali ke dunia nyata.

Ia terjatuh dari tempat tidurnya, dengan keringat dingin dan sedikit airmata.

Lan Wangji terengah-engah, mencoba merasakan kembali udara yang memasuki paru-parunya dan keluar dengan suhu yang lebih hangat. Ia bangkit dan segera mengambil pakaiannya.

Ia berlari menuju danau sendirian. Dengan sebuah obor di tangannya, ia berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di danau itu. Siapa pemuda cantik berpita merah yang selalu mengganggunya itu. Apa yang terjadi pada orang-orang itu.

Lan Wangji sampai di dermaga danau. Hanya ada pantulan bulan purnama di permukaannya. Teratai dalam berbagai warna yang mekar dan masih kuncup. Riak kecil dari air yang begitu dangkal. Bunyi hewan-hewan malam yang bersembunyi di balik dedaunan lebar tanaman air.

Lan Wangji mencoba memeriksa sekitar, tidak ada yang terlihat aneh. Tidak ada orang yang berada di sana kecuali dirinya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah keluarga Jiang.

Tetapi saat ia membalik badan, sesosok pemuda berpita merah yang ada di mimpinya muncul.

"Hei... Apakah kau tidak apa-apa?" Tanyanya dengan hati-hati.

"Tuan tampan? Aku...," jawabnya sambil membalik badan. "Aku kesakitan."

Lan Wangji terperangah. Wajah yang tampak manis dan cantik itu babak belur dengan luka di sana sini. Ia berjalan mendekat dan membuat Lan Wangji mundur teratur.

"Aku kedinginan... Aku sendirian... Kau tidak akan meninggalkanku bukan?" Tanyanya sambil berjalan mendekati Lan Wangji.

Wajah yang masih berbentuk itu pelan-pelan dagingnya terkelupas. Tangannya yang terulur membusuk secara bertahap. Pita merahnya menghitam karena lumut. Jubah hitamnya dalam keadaan basah kuyup.

Matanya merah nyalang. Membuat mata emas Lan Wangji terbelalak ketakutan. Langkahnya hanya terus mundur berharap pemuda itu—makhluk mengerikan itu—menjauhi dirinya. Tapi tidak, makhluk itu terus berlari mendekat sambil mengatakan semuanya dengan suara melengking yang mengerikan.

"Kau berjanji selalu bersamaku. Kau harus ikut denganku. Kau tidak boleh meninggalkanku. Kau sudah membiarkanku MATI SENDIRIAN!"

Lan Wangji membuat langkahnya lebih cepat dan ia tersandung celah papan kayu dermaga yang tidak rata. Sayang sekali ia sudah sampai di ujung dermaga yang membuatnya harus tenggelam.

Lan Wangji berusaha berenang, berusaha menggapai akar-akar teratai yang mengambang. Ia berusaha meminta tolong, berharap ada orang yang mendengar teriakannya sembari mendekat ke dermaga.

Tetapi semua itu sia-sia. Tangannya terjerat akar tumbuhan air dan ia tak bisa mencabutnya. Pelan-pelan ada tangan lembut yang menutup mata emasnya, membuat pandangannya menjadi gelap.

Ia menyerah. Sudah terlalu dingin dan gelap. Tak ada udara yang tersisa dalam paru-parunya. Ia akan mati tenggelam, menjadi tambahan korban Danau Yunmeng.

Ketika kesadaran benaknya terkumpul kembali, ia bergegas untuk berusaha bangun. Dengan susah payah ia akan mencoba untuk hidup kembali. Ia mencoba membuka matanya, tetapi yang terlihat hanyalah wajah manis pemuda berpita merah dengan seringainya yang mengerikan.

"Kau sudah bangun, Tuan tampan?"


000


Lan Xichen meremat surat dari Nie Mingjue. Pita hitam yang mengikat gulungannya adalah pertanda buruk. Hatinya kacau dan tak bisa menenangkan dirinya apalagi pamannya yang menangis tersedu-sedu.

Siang itu, Ketua Pengadilan Nie Mingjue menyuruh stafnya untuk memberikan surat itu kepada Lan Qiren dan membuat Pak Tua itu menangis tanpa henti. Pensiunan panglima perang itu tidak bisa ditenangkan oleh siapapun dan hanya bisa berhenti menangis karena kelelahan.

Sore harinya, Lan Xichen yang pulang dari kantornya melihat pamannya yang sangat lemas dengan surat bertanda cap pengadilan utama. Hatinya hancur mengetahui bahwa adiknya tenggelam dan sampai saat surat itu dibuat, tidak ada tanda-tanda penemuan jasad Lan Wangji di Danau Yunmeng selain giok biru pucat yang tersangkut di antara teratai.

Sementara lima korban sebelumnya telah ditemukan dengan jasad mengapung di pagi hari setelah perkiraan waktu kematian Lan Wangji.

Jiang Wanyin tak mengizinkan siapapun mendekati danau itu. Ia berharap tidak ada korban selanjutnya karena takut danau itu meminta tumbal lebih banyak setelah kematian Lan Wangji.

"Kau tahu, mungkin penyihir itu memang menginginkan hakim muda itu," kata seorang kakek tua yang menghampirinya.

"Apa maksud Anda?" Tanyanya dengan sedikit ragu.

"Hmm... Keluargamu tak menceritakan hal ini bukan? Aku sendiri sudah lupa akan kejadian ini sampai aku melihat hakim muda itu. Sosoknya mengingatkanku akan peristiwa di zaman dulu," ujarnya sambil terus berjalan dengan tongkatnya.

"Kejadiannya saat aku masih kecil," tuturnya. "Mungkin hampir seratus tahun yang lalu, mengingat aku sudah setua ini."

Jiang Wanyin tak berkomentar. Ia tetap mendengarkan dengan baik.

"Dulu ada seorang pemuda yang diduga mempelajari ilmu hitam. Kurasa, sebenarnya ia bukan orang jahat sungguhan," katanya. "Ia memiliki seorang suami berwajah pucat dan bermata emas. Ia sering mengenakan pakaian yang warnanya sama seperti langit yang cerah. Begitu pendiam, tetapi sering menolong orang lain tanpa banyak omong. Wajahnya sangat mirip dengan hakim muda itu."

"Sampai suatu hari, beberapa orang mengaku keracunan setelah berenang di danau ini. Mereka menuduh pemuda itu yang telah membuat danau ini jadi beracun karena ia mempelajari ilmu hitam. Semua warga menyerbu ke rumah itu saat sang pria pucat itu tidak ada. Mereka mengejar pemuda itu sampai ke tepi danau dan menghajarnya sampai babak belur, lalu mereka menenggelamkannya ke dasar dan berharap kutukan danau itu berhenti."

"Ah, bagaimana dengan suaminya?" Potong Jiang Wanyin.

"Suaminya baru kembali dari hutan, dan warga sudah mencegatnya. Ia percaya saat orang-orang mengajaknya ke kedai, memberikan minuman racun kepadanya agar kematiannya cepat dan tak menyakitkan."

"Tragis sekali," katanya menanggapi.

"Sang pria pucat itu mati tanpa dendam, mungkin karena itu ia bisa bereinkarnasi dengan baik. Tetapi pemuda itu... Amarahnya terlalu kuat dan kematiannya begitu tidak baik. Beberapa kali aku melihatnya mondar-mandir di dekat danau dan menakuti warga, tetapi aku belum pernah melihatnya mencelakakan orang lain sampai baru-baru ini."

Jiang Wanyin menghela napas pasrah. Ia tak tahu apa yang harus ditanggapi dari kisah itu selain sedih dan miris. Ia hanya bisa berharap semoga arwah mereka tenang di sana.




Lan Wangji, 28 tahun. Hakim muda.


Teratai Merah

Komentar

Postingan Populer