Blog pertama 2024
Menulis.
Cuma satu kegiatan, tapi sebenarnya ada banyak hal yang aku rasakan ketika menulis.
Aku termasuk golongan manusia yang buka mulut seperlunya untuk bicara dengan orang lain, kecuali kalau sudah terbukti trusted. Sehingga ketika tidak ada orang yang teridentifikasi trusted di sekitarku, mendingan aku diem aja. Diam kadang diartikan tidak peduli, tidak tahu, carefree tentang suatu hal, padahal enggak juga.
Kadang dalam menghadapi situasi tertentu, pikiran dan perasaanku sulit dijelaskan secara spontan, terutama ketika diajak bicara. Aku lebih memilih mundur dulu untuk melihat garis besar situasinya dan melakukan hal-hal yang menurutku sanggup aku lakukan sebagai mitigasinya. Tapi asal tahu saja, sudah mikirin solusi ruwet kaya gitu pun masih dibilang jalan pikiranku aneh, melawan arus dan entah ke mana arahnya. Ada yang bilang aku terlalu asal-asalan dalam memilih pilihan hidup.
Di situ aku jadi bingung. Kalau sejak dari pikiran aja udah salah, mau ambil tindakan yang seperti apa? Karena sudah serba salah dari awalnya, bahkan kalau gak mengambil tindakan juga bakal berakhir salah karena nggak ada solusi.
Dari kecil aku lebih suka menuliskan perasaanku. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa menuliskan perasaan itu selalu diromantisasi, padahal... enggak juga.
Sejak umur 15 tahun, kebanyakan isi catatan pribadiku adalah rasa sumpek dan setres. Pemikiran-pemikiran yang terlintas di kepala tapi tidak bisa diceritakan ke sembarang orang. Perasaan rumit karena banyak faktor, tidak bisa diurai langsung dengan spontan bicara. Topiknya juga bukan cinta-cintaan saja. Lebih banyak tentang menghadapi situasi yang membingungkan dan kebuntuan pikiran untuk mencari solusi hidup.
Bahkan sampai hari ini, aku masih menulis untuk mengurai perasaanku yang rumit. Menulis butuh rangkaian kata yang tepat untuk dituangkan. Setiap perasaan jadi bisa diidentifikasi dengan jelas, bagaimana rasanya, apa responnya, dan kenapa merasakan hal seperti itu.
Apalagi ketika digabung dengan bahasa asing, menulis jadi lebih terasa. Nulisnya sambil mikir kata apa yang tepat untuk menjelaskan suatu hal atau benda yang sebenarnya dimaksud. Makanya bahasa inggris-indonesia-jawa versi suroboyoan enak banget, karena perbendaharaan katanya banyak.
Tapi ya gitu, nulis itu membuat logika menganalisis perasaan yang sebenarnya. Meskipun setelah menulis ga langsung ada solusi, tapi bisa ketahuan sebenarnya apa yang dicari-cari buat jadi kemungkinan penyelesaian.
Aku pernah menulis, "di bawah langit cerah kita berjalan demi harapan yang tersimpan dalam genggaman tangan," waktu umurku 13 atau 14 tahun.
Tapi aku juga menulis, "aku gak tau hidupku bakal ke mana arahnya," di umur 23 tahun.
Panjang cerita sampai segitunya demotivasi.
Tapi aku tergugah gara-gara pernah nulis, "hidup seperti rumput teki. Mau diinjak seribu kali pun masih hidup dan tumbuh lagi. Quotes by dosen".
Jadi ada rekam jejak kehidupan, ada hal-hal baik yang diingat. Ada kesedihan yang terjelaskan. Ada rumit yang bisa diuraikan. Ada jatuh bangun yang tercatat.
Tidak lupa juga melatih S-P-O-K bahasa native maupun asing yang digunakan. Apalagi kalau ada mid-sentence language switching dalam penjelasan panjang. Ada beberapa hal yang lebih tepat untuk dijelaskan dalam bahasa tertentu.
Komentar
Posting Komentar