Jiwaku

 




Minggu malam

Aku menyalakan komputerku untuk melihat kembali pekerjaanku

Sekarang aku sudah dewasa, dan usiaku duapuluhan

Tapi ada yang mengganjal di hatiku


Dengan mudahnya aku menyetel lagu lama

Lagu yang mengingatkan masa remajaku yang begitu kuat

Lagu yang mengingatkan rasa cintaku yang masih polos dan penuh

Setiap kata-kata yang membawa memori ketika aku begitu tangguh

 

 Waktu itu, aku adalah gadis yang ceria dan sedang jatuh hati

Teman sekelasku, sahabatku, rivalku, sekaligus inspirasiku

Aku menangis ketika mendapat nilai jelek saat ujian

Lalu aku belajar dengan keras, aku berusaha menemukan jalanku

Ketika aku menjadi yang terbaik, ia terus mendukungku

Aku harus pergi ke sana dan kemari untuk belajar

Sedangkan ia hanya bisa mengikutiku berjalan dari belakang

Dengan sepedanya yang dikayuh pelan, ia memandang punggungku

 

Aku tidak tahu kalau beberapa bulan setelah aku lulus,

Ia memberiku patah hati yang begitu menyesakkan.

  

Aku juga punya beberapa sahabat yang menemaniku

Mereka membuatku tertawa begitu keras

Mereka juga melindungiku dan menyeka airmataku

Saat itu aku menangis dengan tersedu-sedu

Entah karena keluargaku marah padaku, atau aku hanya ingin mengadu

 

Lalu semua berganti dengan sekejap setelah kami lulus

 

Mereka semua menempuh jalannya masing-masing,

Aku pun melakukan yang harus kulakukan.

  

Aku bertemu lagi dengan kawan lamaku,

Kawan yang dulunya tidak terlalu kupedulikan.

Ia membantuku melewati masa-masa yang berat,

Lalu aku jatuh cinta dan menyatakannya.

 

Ia membuat semuanya sulit untukku,

Ia tak menyadari perasaanku yang begitu besar dan tulus.

Tapi ia akhirnya melihat semuanya,

Kemudian ia menemaniku sampai beberapa saat yang lalu.

Ia menjadi pendukungku yang tidak tampak,

Menjadi pendengar terbaik semua keluh kesahku.

Seakan ia adalah hutan belantara yang luas untukku bersembunyi

Ketika aku ketakutan, ketika aku ingin sendirian

Ketika aku merasa lelah dan ingin ditenangkan sejenak

 

Tapi kau tahu?

Lagi-lagi aku patah hati, dan yang ini begitu berat.

Kami bertengkar, tapi ia sudah tidak peduli

Aku juga tidak bisa mengalah lagi

 

Aku kehilangan kekasih, sekaligus sahabatku yang paling dekat.

Hari itu aku benar-benar merana dan meratap,

Kemudian esok hari hanyalah kehampaan bagiku.

Aku tidak tahu ke mana lagi harus bersandar ketika aku lelah,

Aku tidak punya penenang lagi ketika aku takut,

Dan aku kehilangan banyak hal, meskipun itu untuk menyelamatkan diriku.

  

Aku mencoba untuk jatuh cinta lagi,

Tapi aku terlalu takut untuk patah lagi dan lagi.

Rasanya tidak sama, tidak setulus saat aku lebih muda.

Terlalu banyak pertimbanganku agar tidak ceroboh,

Aku takut rasa sakitku ini bertambah dan kutanggung sendiri.

 

Aku berusaha untuk bersemangat lagi,

Aku mencoba untuk belajar dan menyibukkan diri,

Tapi rasanya begitu menyedihkan karena aku gagal.

Aku tidak berhasil membereskan perasaanku sendiri,

Dan aku tidak menyelesaikan pelajaranku dengan baik.

 

Aku enggan untuk menyatakan perasaanku lagi,

Lalu memilih menyimpan semua sendiri.

Aku takut jika orang lain melihatku lemah atau rapuh,

Aku tidak suka sosok yang seperti itu, jadi aku berusaha kuat.

 

Entah seberapa berat beban yang kuangkat saat berolahraga,

Atau seberapa jauh aku berlari di sore hari,

Rasanya tak ada yang sebanding dengan beban jiwaku yang menghambat.

Aku juga tidak bisa lari dari keadaanku yang sebenarnya.

 

Aku begitu bingung dengan perasaanku dan masa depanku,

 

Ketika kulihat di belakangku, sudah banyak yang kulalui.

Aku tidak ingin menyia-nyiakan semua ini.

Aku masih punya harapan dan cita-cita yang tinggi,

Meski begitu, aku masih tidak tahu apa yang harus kulakukan.

 

Aku tidak mengerti apa yang seharusnya kurasakan,

Terlebih jika seperti ini, aku hanya ingin menangis dan menangis.

Perasaan ini terus meluap, seperti darah yang dipompa dari jantung,

Seiring detaknya, memompa perasaan rumit dari jiwaku.

Aku tidak tahu ini perasaan apa, atau bagaimana menjelaskannya.

Aku merasa sedih jika terus seperti ini.

 

Terkadang aku putus asa lalu meratap,

Sambil berdoa, aku hanya terus berkata, “Berikan aku petunjuk.”

Hari-hariku penuh dengan rasa muram, dan aku kehilangan arah.

Aku ingin semangat masa mudaku kembali, meskipun tidak seperti dulu lagi.

Aku ingin hari-hariku yang cerah dan bahagia.

Aku ingin sembuh dari lukaku yang begitu menyengat jiwa.

Dan aku berharap mimpi-mimpiku yang kembali menyala.

 

 Tuhan, berikan aku pertolongan.


- PS. You should listen to AKB48's Everyday Kachuusha and Sakura no Shiori while reading for better experience.

Komentar

Postingan Populer